Sex Gadis SMU Perawan

Sex Gadis SMU Perawan

Namanya Nina, anak cantik bintang SMU di kotanya. Gadis ini tinggi dan berbody aduhai sekali. Setiap mata pria yang memandangnya pasti akan langsung tertuju pada matanya yang indah dengan bulu mata yang lentik, bibirnya yang sexy memang sensual itu dan terakhir toketnya yang cukup besar untuk ukuran anak SMU.

Ujian akhir pun sudah dekat dan gadis ini yang tergolong otaknya pintar langsung mengikuti bimbingan belajar yang khusus dibuka saat Ujian Akhir Nasional mendekat. Hasilnya pun tidak mengecewakan karena setelah pengumuman hasil ujian diberitakan, dia menempati urutan ke 15 dari SMU nya dan itu sudah tergolong sangat baik mengingat SMU tempat Nina belajar adalah SMU favorit di kota Solo.

“Hai Nin. Gimana hasil ujian kamu? Pasti mendapatkan peringkat yang tinggi yah?” Tanya seorang teman pria-nya.

Laki-laki ini merupakan mantan dari Nina, mereka pernah pacaran sewaktu masih SMP kelas dua dan putus setelah lulus SMP karena ketidak cocokan dan pemuda ini tersingkir karena di SMU yang baru itu, Nina sudah menjadi kembang di sekolahnya yang baru dan bahkan banyak kakak kelas yang rela berantem untuk mendapatkan nya.

Gadis ini pun akhirnya menetapkan pilihannya pada seorang yang bernama Firman setelah gonta-ganti pacar hingga dikelas tiga SMU, adapun nama dari mantannya adalah riki.

Nina hanya tersenyum setelah tahu pemuda yang menyapanya barusan adalah mantan kekasihnya. Memang dia sangat tidak suka dengan pemuda ini karena sekarang pemuda yang dulunya simpatik ini telah berubah menjadi seorang pemabuk yang tidak jelas masa depannya, walaupun sebenarnya dia berasal dari keluarga yang cukup berada.

Riki tertunduk menahan sakit hati dan malu ketika pertanyaannya tidak dijawab oleh Nina dan bahkan gadis ini hanya ngelonyor pergi tanpa peduli dengan perasaan temannya itu. Gadis cantik namun sedikit sombong walaupun dia punya alasan untuk itu.

Nina berjalan mendekati kerumunan anak lelaki dan langsung menuju kesamping Firman, sang kekasih. Beberapa teman pemuda itu pun bersiul-siul menggoda, Firman tahu kalau sebenarnya teman-temannya itu selalu bermimpi bisa berpacaran dengan kekasihnya yang sekarang ini.

Mereka pasti memikirkan bagaimana bentuk tubuh gadis cantik itu saat telanjang. Segala pikiran kotor yang ada dipikiran dibenarkan dengan cara para anak lelaki itu menatap pantat, perut dan bahkan toket Nina yang sudah tumbuh itu.

“Gimana nih rencana untuk perpisahan dengan teman-teman?” Tanya Nina kepada Firman dan pemuda ini memberikan kode kepada salah satu temannya untuk bicara.

“Jangan khawatir, semua sudah kita urus kok cantik. Kita bakalan ajak pacar kita masing-masing untuk bareng sekaligus piknik di hutan wisata diluar kota.” Sahut salah seorang teman Firman yang bernama Ahmad.

Ahmad ini berbadan gemuk dan tidak begitu tinggi namun walaupun begitu dia adalah ank seorang pengusaha yang lumayan sukses di kota Solo.

“Kamu bisa ikut kan Nin?” Tanya Firman kepada gadis cantik itu.

Dan Nina menjawabnya dengan anggukan gembira. Dia teringat dengan perkataan Firman bahwa dia akan memberikan kejutan pada acara perpisahan dengan teman-teman kumpulnya selama ini. Dia selalu menebak-nebak apa yang akan diberikan pemuda ini kepadanya dan penasaran.

Akhirnya hari yang ditentukan untuk acara perpisahan datang juga. Sabtu siang Firman, Nina dan 3 pasang anak SMU yang lain berangkat untuk menuju keluar kota, kesebuah hutan wisata yang letaknya tidak begitu jauh dari batas kota Solo.

Dalam waktu kurang dari setengah jam mereka tiba di kawasan hutan lindung dan segera  mereka menyusuri jalan kecil yang membelah hutan itu untuk menemukan lokasi yang sesuai untuk mereka berkumpul.

Akhirnya setelah beberapa saat mencari, Ahmad pun memberikan komando bahwa dia telah menemukan tempat yang asyik untuk mereka.

“Kok lewat jalan kecil?” Tanya Nina ketika Firman melajukan sepeda motornya menembus rimbunnya hutan dengan sepeda motor miliknya dan melewati jalan-jalan yang belum diaspal, jalan ini lebih kecil dibandingkan dengan sebelumnya yang membelah hutan yang barusan mereka lewati.

Firman memperlambat laju kendaraan bermotornya dan akhirnya berhenti ketika Ahmad dan temannya yang lain juga berhenti. Mereka telah tiba didaerah perbatasan antara hutan dengan perkebunan strawberry dan perkebunan cajuput. Dari kejauhan tampak sungai Bengawan Solo membelah kawasan hutan itu dan hanya di hubungkan dengan sebuah jembatan kecil yang hanya bisa dilewati satu sepeda motor secara bergantian saja.

Lokasi ini cukup datar dan semaknya sedikit dimana terdapat dua tempat tua yang tidak terawat yang dulunya diperuntukkan sebagai lokasi peristirahatan wisata namun karena anggaran pemerintah kota tidak mencukupi maka proyek dihentikan sementara tempat dan perlengkapan lainnya ditinggal begitu saja tanpa diurus lagi sehingga sekarang terlihat tidak terawat padahal tempat itu cukup besar dan nyaman.

Di tiang-tiang tempat ini terdapat coretan tangan-tangan jahil yang kebanyakan adalah anak sekolah yang dulunya menggunakan tempat itu hanya untuk indehoy bersama dengan pasangannya masing-masing. Tapi sepertinya Nina belum paham dengan situasi tempat itu dan masih biasa saja.

“Disini yah Fir?” tanyanya lagi kepada kekasihnya dan Firman mengangguk lalu mengajak Nina untuk menuju kesebuah tempat dan membersihkan kursi dari semen yang kotor akan dedaunan itu sehingga mereka dapat duduk disana.

“Kamu cantik sekali hari ini sayang.” Perkataan manis itu meluncur dari mulut Firman yang kemudian dia merangkul Nina dan memangkunya dipahanya.

Sementara Nina tidak berusaha untuk melepaskan dekapan Firman dari belakang walaupun dalam hati dia malu tapi dia juga mau.

“Kita mau apa sih sebenarnya kemari? Nggak ada apa-apa juga disini sayang.” Ucap Nina.

Firman yang asyik membelai-belai rambut gadis cantik ini kemudian menjawabnya.

“Aku kan hanya ingin berdua saja denganmu, lagipula nanti jika kamu memutuskan untuk kuliah, aku kan sudah susah untuk bertemu denganmu lagi sayang karena ayahku juga tidak memiliki biaya untuk mengantarkan aku kejenjang mahasiswa.

Lihat saja Ahmad dan Wahyu, mereka juga berperasaan yang sama denganku. Ahmad akan disuruh kuliah diluar kota sementara Wahyu sudah didaftarkan kesebuah institute terkenal di Jogja sayang. Kita nggak akan ketemu lagi dalam waktu yang lama Nin.

Aku cuma ingin untuk melepaskan waktu-waktu terakhir kita berdua. Kamu mau kan?” bujuk pemuda ini kepada Nina dan gadis ini tersenyum lalu kemudian mengangguk.

Dalam hati Nina yakin bahwa kekasihnya itu benar-benar mencintainya. Hari pun mulai sore dan matahari mulai tenggelam, Seolah tidak ingin berpisah Nina memeluk kekasihnya Firman tau jika Nina ingin berdua dengan nya.

Firman pun menyuruh teman-teman nya yang lain untuk pergi terlebih dulu ketika mereka mengajak Firman dan Nina untuk pulang dan sekarang hanya tinggal mereka berdua sendiri di tengah hutan wisata itu.

Aku juga gak mau pisah sama kamu sayang, Firman membisikan kata-kata itu sambil mendekatkan bibrnya kearah telinga  Nina dan kemudian mengecup pipi dan leher Nina lembut.

Nina menoleh kebelakang untuk mengatak sesuatu tapi langsung dibungkam mulutnya dengan ciuman mesra Firman, ciuman pertama dalam sejarah untuk Nina entah karena terbawa oleh situasi sejuk dan sepi disana Nina juga membalas ciuman nya dengan tidak kalah mesra dari Firman dengan posisi masih di pangku oleh kekasihnya dan tidak melepaskan ciuman pacarnya.

Jemari nakal Firman pun mulai meraba payu udara Nina yang masih memakai seragam sekolah dan kemudian satu persatu kancing bajunya mulai terbuka hingga baju itu terbuka dengan lebar memperlihatkan payuudaranya yang putih dengan memakai kutang warna pink, seperti dihipnotis saja Nina tidak sadar  bahwa sekarang buah dadanya nyaris telanjang.

Merasa mendapatkan lampu hijau dari kekasihnya itu, Firman lalu mengarahkan tangannya itu kearah punggung Nina dan melepaskan kaitan bra gadis cantik itu sehingga dengan mudah sekarang Firman dapat membuka bh milik pacarnya itu keatas dan sekarang terlihat sudah payudara Ningrum tanpa penutup apapun lagi. Ini adalah pertama kalinya bagi Nina menunjukkan buah dadanya didepan kekasihnya.

Sembari kedua mulut pasangan itu saling berpangutan satu sama lain, tangan Firman keduanya mulai menjelajahi gunung gadis ini untuk mendapatkan kepuasan layaknya seorang pria. Payuudara milik Nina diremasnya berulang-ulang hingga kedua putingnya mengeras dan bukan hanya itu saja, pemuda ini juga memilin-milin puting Ningrum dengan gemasnya hingga sering gadis ini harus menghentikan ciumannya mendesah, entah karena rasa sakit ataupun rasa nikmat yang tiada tara yang untuk pertama kalinya.

“Akhhh,,,, Fir, sudah! Aku nggak mau nanti kita berdua kebablasan.” Seru Nina mencergah tangan Firman yang menyelusupi pahanya di balik rok seragam abu-abunya.

Namun Firman tidak peduli dan menepiskan tangan Nina yang mencekal tangannya dan langsung mengarahkan kepangkal paha gadisnya itu sehingga menyentuh bagian vital Nina yang masih terbungkus celana dalam warna putih. Bagian vital yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya kepada siapapun juga bahkan kepada kekasihnya yang terdahulu.

Jemari Firman merasakan jika adanya cairan yang membasahi celana dalam kekasihnya itu. Walaupun masih perawan tetapi Nina tetaplah seorang gadis normal biasa yang tidak bisa menahan godaan nafsu sensasi apabila terus dirangsang habis-habisan oleh pacarnya. Sekarang vagina gadis cantik ini sudah basah.

Nina sadar bahwa dia sudah melangkah terlalu jauh dari apa yang ada dan berusaha untuk membebaskan dirinya dari rangkulan Firman namun gagal karena Firman sudah tidak dapat lagi melepaskan moment yang ditunggu-tunggunya selama ini yang dia katakan sebagai kejutan kepada Nina. Dengan setengah memaksa.

Pemuda ini melepaskan bra dan baju seragam SMU yang dikenakan oleh Nina dari belakang lalu membuangnya jauh-jauh agar tidak dapat diambil lagi oleh Nina.

Rasa malupun terlihat dari wajah Nina yang sekarang berubah merah padam melihat dirinya sekarang nyaris telanjang dengan payudara yang menggelantung walaupun dia berusaha untuk menutupinya dengan menyilangkan kedua lengannya tetapi tetap saja pandangan mata liar Firman bisa menembus sela-sela lipatan tangan itu.

“Firman! kamu apa-apaan ini? Katanya kamu sayang sama aku, kok begini jadinya?” Ninai mulai meneteskan airmatanya memohon agar Firman mau berhenti dan tidak memaksanya lagi.

“Lah inilah bukti sayangku kepadamu Rum. Aku sayang sama kamu dan aku butuh kamu selalu menjadi milikku selamanya.” Sahut Firman lalu mendekap Nina dari depan dengan erat.

Berbagai ucapan manis dilontarkan oleh pemuda ini dan akhirnya Nina luluh juga hatinya dan membuka silangan tangannya hingga sekarang payudara montok itu terlihat kembali oleh Firman.

“Kamu benar-benar sempurna sayang. Buah dadamu benar-benar sangat indah luar biasa sekali.” Ucap Firman lalu meremas-remas lagi buah dada Nina dengan mesra dan mulutnya pun tidak mau ketinggalan dan mulai menjilati dan menghisap juga jemari nakal Firman seolah membuat Nina terbang keangkasa.

Dia yang sebelumnya anti dengan hal semacam ini sekarang menjadi menikmati permainan nya. Hilang sudah rasa takut dan rasa malunya yang tadi sempat mendera nya dan berganti sudah dengan keinginan untuk merasakan kenikmatan yang total bersama dengan pacarnya sekarang ini.

“Ohhh,,,, Ohhh,,,” desahan demi desahan Nina yang seksi itu membahana disekeliling tempat tanpa takut bahwa akan ada orang lain yang menyaksikan perbuatan kedua sejoli itu karena memang lokasi itu berada ditengah-tengah hutan sementara perkebunan yang berada didekat mereka masih belum waktunya panen sehingga jarang dikunjungi petani.

Tidak butuh waktu yang lama bagi Firman untuk melancarkan aksi susulan. Ketika Nina masih dibuai dengan kenikmatan cumbuannya terhadap buah dada kekasinya itu, Firman mengarahkan jemarinya menelusuri paha Nina dan melapaskan celana dalam kekasihnya itu dan menariknya kebawah.

Dalam hitungan detik saja, celana dalam Nina sudah jatuh ketanah. Nina kaget tapi belum sempat dia protes, Firman kembali mencumbu bibirnya lagi sehingga membuat Nina tidak dapat berkata apa-apa lagi.

Sambil menciumi Nina, salah satu tangan Firman meremas-remas payudaranya sementara tangan yang lain menelusuri vagina kekasihnya cantik ini yang sudah basah kuyup. Sesekali Nina merintih sakit apabila tusukan jari jemari Firman terlalu dalam sehingga menyentuh bagian dalam gadis cantik ini. “Jangan Fir! Aku masih perawan.” ujar Nina tapi sekali lagi bujuk rayuan Firman nampaknya sangat ampuh untuk membendung penolakan Nina terhadap perlakuannya itu.

Diturunkan resleting celana abu-abu pemuda ini dan dipelorotkannya kebawah beserta dengan celana dalamnya dan saat itu juga terpampang dengan jelas dimata Nina sebuah penis seorang pemuda remaja yang sudah ereksi sedari tadi. Bahkan diujungnya sudah mengeluarkan cairan pelumas siap untuk mengendarai liang kewanitaan gadisnya itu.

“Akh..Firman. Kamu mau apa?” ujarnya ketika melihat batang penisnya itu disodorkan kearah Nina dan memaksa kedua tangan Nina untuk memegangnya. Awalnya agak grogi dan risih juga ketika Nina menyentuh benda asing milik pria itu yang tidak pernah sama sekali dia lihat namun setelah beberapa saat dia sudah mulai terbiasa bahkan mulai menuruti kata-kata Firman untuk terusmengocoknya.

Dengan servis tangan sepertinya Firman masih merasakan kurang puas, lalu dengan sigap dia langsungmenarik rok abu-abu milik Nina  kearah atas sehingga vagina gadis itu terlihat olehnya dengan jelas. hutan rimba dan jarang menghiasi vagina gadis cantik ini.

Firman lalu langsung mengarahkan batang kejantanannya kearah lubang kenikmatan itu dengan posisi setengah berdiri sementara tangannya yang lain mendorong badan Nina agar bersandar ke tiang utama tempat yang berbentuk kotak besar itu.

Pemuda ini dengan cepat menggesek-gesekkan penisnya ke bibir vagina Nina sehingga sesekali bibir kemaluan gadis cantik itu terbuka dan ketika sudah cukup basah, pemuda ini menancapkan batang kejantanannya yang berukuran panjang kurang kebih 13cm itu kearah liang senggama dan menguat menerobos bibir kemaluan pacarnya tersebut.

“Sakit…aduh.. awwww,,,,Fir! Hentikan! Sudah! Aku sudah gak tahan…sakittt…aghh… aghhhh,,,!” racau Nina sembari berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Firman namun sia-sia saja.

Pemuda ini sudah lebih mirip binatang buas ketika memaksakan penisnya untuk memasuki senggama gadis cantik ini.

“Agghhhh,,, agghhh,,,,,sakit! Sudah hentikan! Sakit Fir…” desak Nina tapi apa daya karena Firman sudah sangat kesetanan dan dengan teganya dia melakukan penetrasi paksa kepada liang senggama yang masih perawan tersebut hingga dalam satu beberapa sodokan kasar akhirnya batang kejantanannya sudah berhasil merobek selaput dara Nina dan membenamkan seluruh penisnya kedalam liang senggama gadis itu.

Seiring dengan desah sakit Nina, benda asing yang tumpul itu telah berhasil terbenam didalam liang kewanitaan nya.

“Nina. Kamu benar-benar cantik dan memuaskan abis. Memang rasanya sangat luar biasa kalau ngentotin cewek secantik kamu sayang.” Ujar Firman yang kemudian tanpa memberikan waktu untuk Nina mengambil nafas sedikit pun langsung saja melakukan sodokan-sodokan liarnya itu memompa liang kewanitaan gadis malang ini.

Nina menangis tersedu setelah mengetahui jika dirinya sudah tidak lagi perawan bahkan kekasihnya sepeti lebih memperdulikan kenikmatan bercintanya dibandingkan bagaimana perasaannya pacarnnya sendiri.

Selama kurang lebih sepuluh menit, penis Firman menyodoki lubang vagina Nina tanpa ampun walaupun seringkali dia meminta gar Firman berhenti sejenak karena dia merasakan rasa sakit namun tidak dipedulikan oleh pemuda ini dan terus melakukan pompaannya tanpa lelah karena sudah sangat nafsu.

Tubuh Nina yang setengah berdiri bersandar di balok kayu besar yang menjadi penyangga utama tempat itu, terhentak-hentak tiap kali Firman mempercepat goyangan permainannya dan sekarang tubuh molek gadis cantik ini seolah tidak bernyawa saja. Payudaranya yang berulang-ulang kali diciumi di jilati Firman secara kasar sudah mulai memerah karena perlakuan kasar kekasihnya yang tanpa persaan itu.

Tidak ada desahan kenikmatan, yang ada hanyalah rintihan tiap kali Firman melakukan sodokan-sodokan kasar kepadanya. Dirinya diperlakukan oleh Firman seperti barang atau benda mati yang hanya dibutuhkan vaginanya sebagai alat pemuas nafsu nya saja.

Aggghh,,,, sayang… aghhh,,,” seru Firman yang lalu mengejang tubuhnya.

Sperma miliknya membasahi liang senggama Nina dan menetes keluar seiring dengan saat dia mencabut batag kejantanannya tersebut dari vagina kekasihnya yang malang itu.

“Kamu benar-benar memuaskan Nin. Kapan-kapan lagi yah sayang. Sekarang kamu kan udah nggak perawan lagi jadi kalo mau main berapa kali tidak apa-apa.” Ucapnya sembari membelai rambut panjang kekasihnya yang masih terduduk lemas karena sodokan nya itu.

Nina hanya diam saja, dia tahu kalau belaian itu adalah tipuan, tapi walau begitu dia masih berharap bahwa ini hanyalah sebuah mimpi atau setidaknya dia ingin agar Firman tidak pernah meninggalkannya.

Akhirnya setelah bermesraan selama satu setengah jam lebih, mereka berdua berboncengan untuk kembali kerumah masing-masing. Nina yang baru saja kehilangan keperawanannya menjadi susah untuk berjalan karena jalannya sudah menjadi agak ngangkang akibat sodokan kasar dari Firman pada vagina yang selama ini dijaganya dengan hati-hati dan ndi renggut begitu saja. Yang tersisa sekarang hanyalah tempat tua yang menjadi saksi percintaan antara mereka berdua yang dibangkunya tercecer noda darah perawan Nina dan sperma milik Firman saja.

Tapi sebenarnya ada satu lagi saksi mata yang melihat, yaitu sepasang mata yang dari siang tadi memperhatikan gerak-gerik mereka dengan penuh perasaan cemburu sekaligus dendam dihati.

Sepasang mata milik seorang anak SMU satu sekolah yang juga menyukai Nina tetapi ditolaknya dengan mentah-mentah sewaktu melamarnya. Seseorang yang bernama Ari. Pemuda yang nantinya akan berperan penting dalam kehidupannya tanpa Nina sadari.

Share

Related Posts

Leave a Reply

*